Headline

Niat dalam Beramal

Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-bersabda: 

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأةٍ ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه 

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang mau dia dapatakan atau untuk seorang wanita yang mau dia nikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.”(HR.Bukhari dan Muslim). 

Niat dalam Beramal


Kedudukan Hadiits Ini 

Imam an-Nawawi –rahimahullah- mengatakan: 

أجمع المسلمون على عِظَم موقع هذا الحديث، وكثرة فوائده، وصحته 

“Kaum muslimin sudah bersepakat tentang keagungan, begitu banyak faidah dan kesahihan hadits ini.”[1]

Al-Iraqi –rahimahullah- mengatakan: 

هذا الحديث قاعدة من قواعد الإسلام حتى قيل: إنه: ثُلُث العلم، وقيل: رُبُعه، وقيل: خُمُسه، وقال الشافعيُّ وأحمدُ: إنه ثلث الإسلام 

“Hadits ini merupakan salah satu kaidah Islam, sehingga ada yang mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiga Islam, ada yang mengatakan seperempatnya, ada pula yang menyebutkan seperlimanya. Imam as-Syafi’i dan Imam Ahmad pernah mengatakan: “Hadits ini merupakan sepertiga Islam.”[2]

Para ulama kerap kali memulai kitab-kitab karangan mereka dengan hadits ini, di antara para ulama yang melakukan hal itu adalah Imam al-Bukhari –rahimahullah-, Imam Abdurrahman bin Mahdi pernah mengatakan: “Setiap orang yang mau menyusun sebuah kitab hendaknya memulai dengan hadits ini, sebagai pengingat bagi seorang penuntut ilmu untuk senantiasa memperbaiki niatnya.”[3]

Imam Ahmad –rahimahullah- pernah mengatakan: “Pondasi dan asas Islam itu ada dalam tiga hadits: hadits Umar –radiallahu anhu- ( إنما الأعمال بالنيات.. ) hadits A’isyah ( من أحدث في أمرنا هذا.. ) dan hadits Nu’man bin Basyir ( إن الحلال بين وإن الحرام بين )[4]. 

Penjelasan Hadits 

Dalam hadits ini ada beberapa poin-poin dan faidah-faidah penting: 

  • Sah atau tidaknya suatu amal atau diterima atau ditolaknya suatu amal tergantung niatnya, “Sah tidaknya amal perbuatan tergantung niatnya, al-Khattabi mengatakan : “Makna potongan hadits ini (إنما الأعمال بالنيات) sahnya suatu amal dan terpautnya suatu hukum pada amal itu tergantung pada niatnya, niat itulah yang akan mengarahkan suatu amalan (menjadi berpahala atau tidak), al-Iraqi mengatakan : “Yang dimaksud dengan amalan di sini adalah semua perbuatan anggota tubuh manusia, termasuk juga semua ucapan, karena ucapan merupakan perbuatan lisan, sedangkan lisan merupakan anggota tubuh manusia.”[5]
  • Ibnu Hubairah –rahimahullah- mengatakan: “Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali disertai niat, sampai-sampai seorang muslim diberikan pahala berlipat ganda dengan makan minumnya, bediri dan duduknya serta tidur dan terjaganya sesuai dengan niatnya, bahkan suatu amalan mengandung sisi ibadah yang banyak dengan niatnya.”[6]
  • Ibnu Rajab –rahimahullah- mengatakan: “Adapun niat dengan makna yang disebutkan oleh para ulama fiqih yaitu guna membadakan antara ibadah dengan kebiasaan serta membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain, semisal : seseorang yang menahan diri dari makan dan minum, terkadang karena niat diet, karena memang nggak mampu makan dan minum, atau kadang karena meninggalkannya lillahi ta’ala (puasa), oleh karena itu ibadah puasa itu butuh niat. Begitu juga ibadah-ibadah seperti puasa dan shalat, ada yang sunnah dan ada juga yang wajib. Dan begitu pula halnya shadaqah misalnya ada yang sunnah dan ada pula yang wajib (ini semua butuh niat untuk membedakannya, mana yang sunnah mana yang wajib).”[7]
  • ( وإنما لكل امرإ ما نوى ) sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan (balasan pahala dan dosa) sesuai dengan niatnya. (فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأةٍ ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه) “Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang mau dia dapatakan atau untuk seorang wanita yang mau dia nikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” Imam Nawawi –rahimahullah- mengatakan tentang potongan hadits ini : “Barangsiapa menginginkan wajah Allah dalam hijrahnya, maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah, namun barangsiapa yang meniatkan untuk mendapatkan dunia atau mendapatkan seorang wanita, maka itulah bagian/ganjaran yang dia dapakan dan tak ada bagian/ganjaran baginya di akhirat yang akan dia dapatkan disebabkan hijrah ini.”[8]

--------------------------------------------------------------------------------------


[1] Syarh Shahih Muslim :13/47, hadits 1907. 


[2] Syarh Tarhu at-Tatsriib fi Syarh at-Taqriib : 1/6, Syarh al-Arba’in Ibn Daqiq al-Ied hlm. 2. 


[3] Syarh al-Arba’in Ibn Daqiq al-Ied hlm. 3. 


[4] Jami’ al-Uluum wa al-Hikam : 1/24. 


[5] Ma’alim as-Sunan al-Khattabi : 3/211, Tarhut Tatsriib : 1/7. 


[6] Al-Ifshah an Ma’ani as-Sihah : 1/136. 


[7] Jami’ al-Ulum wa al-Hikam: 1/43. 


[8] Tuhfatul Ahwadzi : 5/233.

Popular Tags

Search This Blog

Powered by Blogger.

Niat dalam Beramal

Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:  إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إل...